Laman

Rabu, 25 Oktober 2017

Globalisasi



Globalisasi dan Perkembangan Globalisasi

A.  Pengertian Globalisasi
Memahami definisi dan contoh globalisasi itu penting, terutama untuk para pelajar yang membahas mengenai globalisasi dalam mata pelajarannya. Singkatnya globalisasi ini membuat dunia seakan-akan semakin sempit dan semakin mudah kita dalam berhubungan dengan orang lain walaupun dipisahkan oleh jarak yang jauh. Oleh sebab itu ini adalah tulisan singkat yang membahas mengenai definisi dan contoh globalisasi, silahkan disimak baik-baik informasinya berikut ini.
Berdasarkan Situs Business Dictionary mengemukakan bahwa globalisasi adalah pergerakan dunia secara global dalam hal ekonomi, keuangan, perdagangan, dan juga integrasi dalam bidang komunikasi. Makna ini lebih condong kepada bidang ekonomi dan juga bisnis.menurut Edison A. Jamli dkk adalah pada hakikatnya adalah sebuah proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa-bangsa diseluruh dunia. Contoh kongkrit dari hal ini misalnya adalah PBB yang awalnya hanya didirikan oleh beberapa negara saja dan saat ini anggotanya hampir seluruh negara didunia.
Globalisasi memiliki dimensi ideologi dan teknologi, dimensi ideologi yaitu kapitalisme dan pasar bebas sedangkan teknologi adalah teknologi informasi yang telah menyatukan dunia.Kalimat ini dikemukaan oleh Thomas L. Friedman yang mendefiniskan globalisasi itu sendiri. Thomas L. Friedman merupakan salah satu tokoh media paling berpengaruh abad ini, beliau adalah seorang jurnalis, kolumunis dan pengarang buku asal Amerika Serikat. Beliau telah banyak mengeluarkan buku-buku bagus dan laris dipasaran, dan yang paling fenomenal adalah bukunya yang berjudul "The World is Flat" yang terbit perdana pada tahun 2005. Globalisasi menyangkut seluruh proses yang menyatukan penduduk dunia menjadi satu masyarakat dunia yang tunggal.Berikut ini berbagai macam contoh globalisasi :
1.      Bidang Ekonomi
a)      Terjadinya ekspor dan impor antara satu negara dengan negara yang lainnya yang didasari atas kebutuhan akan produk tertentu misalnya batubara, dll
b)      .Menjamurnya perusahaan-perusahaan asing didalam negari khususnya perusahaan-prusahaan multinasional yang memiliki modal yang besar.
c)      Munculnya produk-produk luar negeri dipasar-pasar dalam negeri, kita bisa lihat dari maraknya produk China dipasar Indonesia ini.
d)     Memungkinkan terjadinya jual beli online dengan pihak yang berada jauh diluar sana dengan memanfaatkan beragam fasilitas e-commerce.
e)      Terciptanya mesin-mesin atau teknologi-teknologi canggih, mutakhir, dan kekinian yang tentunya membantu proses produksi perusahaan.

2.      Bidang Sosial
a)      Semakin banyaknya bahasa-bahasa asing yang masuk ke Indonesia, mungkin dulu hanya bahasa Inggris namun sekarang sudah banyak sekali.
b)      Semakin lama masyarakat semakin heterogen, tidak hanya bauran dengan masyarakat lokal saja melainkan juga masyarakat internasional.
c)      Emansipasi wanita semakin dijunjung tinggi jadi tidaklah aneh kalau saat ini banyak sekali wanita yang bekerja (wanita karir misalnya).
d)     Berkurang/terkikisnya nilai-nilai ke-timuran bangsa Indonesia yang menjadi salah satu ciri asli bangsa Indonesia adalah semangat gotong royong, dan hal ini semakin lama semakin memudar karena pengaruh globalisasi.

3.      Bidang Budaya
a)      Semakin lama budaya asing semakin berkembang pesat di Indonesia, tentu kita sadari saat ini pengaruh budaya Korea sangat hebat dimasyarakat.Masuknya budaya-budaya asing semakin membuat budaya asli Indonesia semakin tersisihkan, saat ini budaya Korea sagat digemari masyarakat.
b)      Contoh globalisasi yang begitu tidak asing lagi dihadapan kita adalah gaya hidup masyarakat kita yang semakin lama semakin mirip gaya hidup barat.
c)      Globalisasi juga membuka imigrasi yang artinya banyak orang luar negeri yang masuk ke Indonesia dan ini membuat Indonesia semakin heterogen.
d)     Globalisasi menciptakan pertukaran budaya antara satu negara dengan negara lainnya didunia misalnya saja antara Indonesia dengan Jepang.

4.      Bidang Politik
a)      Contoh dari globalisasi dalam bidang politik adalah terjalinnya kerjasama antara negara baik itu bilateral, regional, maupun internasional.
b)      Kerjasama bilateral misalnya kerjasama antara Indonesia dengan Arab Saudi yang membahas masalah ekonomi dan keagamaan (haji dan umroh).
c)      Untuk kerjasama reginal misalnya Indonesia dengan negara-negara yang berada dikawasan Asia Tenggara yang membentuk organisasi ASEAN.
d)     Terbentuknya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merupakan contoh dari globalisasi dalam bidang politik, khususnya politik luar negeri.
e)      Munculnya ideologi-ideologi asing yang harus bisa kita filter, jika itu baik dan sesuai dengan ideologi Indonesia maka bisa kita ambil.



5.      Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
a)      Munculnya produk-produk dari teknologi informasi seperti yang kita ketahui saat ini ada radio, televisi, satelit, internet, dan lain sebagainya.
b)      Kemudian juga kita mengenal produk-produk teknologi komunikasi seperti pager, handphone, smartphone, dan masih banyak lagi yang lainnya.
c)      Teknologi transportasi semakin kesini semakin berkembang dengan pesat, saat ini ada pesawat terbang dan kereta api super cepat.
d)     Lahirnya teknologi internet yang membuat manusia semakin mudah berhubungan atau berkomunikasi dengan orang lain walaupun jarak jauh.
e)      Proses belajar mengajar semakin mudah, saat ini banyak kita jumpai sekolah-sekolah atau kampus-kampus yang belajar dengan metode online.

B.       Faktor-faktor Pendorong terjadinya Globalisasi
Globalisasi tidak muncul begitu saja. tentunya ada faktor-faktor pendorong globalisasi yang membuat globalisasi itu muncul dan perkembangannya semakin lama semakin cepat. Globalisasi ini bagai pisau bermata dua, bisa memberikan dampak positif maupun negatif. Oleh sebab itu kita harus cerdas menyikapi kehadiran globalisasi, yang positifnya kita optimalkan yang negatifnya kita buang jauh-jauh. Berikut penjelasan mengenai faktor-faktor pendorong globalisasi:
1. Kemajuan Dalam Bidang Pengetahun dan Teknologi
Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu faktor yang mendorong terjadinya globalisasi. Kita tahu bahwasannya dalam beberapa dekade belakangan ini terjadi perkembangan pesat dalam hal berkomunikasi sehingga seseorang akan dengan mudahnya berkomunikasi atau berhubungan dengan orang lain walaupun jaraknya cukup jauh.
2. Kemajuan Dalam Bidang Transportasi
Kemudian juga ada perkembangan dalam sistem transportasi dunia ini yang membuat globalisasi semakin terasa. Dahulu dari satu tempat ke tempat yang lain membutuhkan waktu yang lama dalam perjalanan karena hanya dengan kendaraan berupa hewan tunggangan seperti kuda, onta, keledai, dan lainnya. Namun saat ini ada kendaraan yang cepat seperti pesawat terbang dan kereta api super cepat.
3. Sistem Perekonomian Negara-negara yang Terbuka.
Tentunya kita semua sudah tahu bahwa sistem ekonomi yang dianut negara-negara saat ini mayoritas adalah sistem ekonomi terbuka sehingga negara yang satu mengadakan kerjasama dengan negara yang lain dalam berbagai bidang misalnya saja ekonomi. Kerjasama seperti ekspor-impor dan perdagangan bebas merupakan salah satu dari sekian banyak hal yang bisa mendorong globalisasi.

4. Hadirnya Perdagangan Bebas
Senada dengan penjelasan diatas, hadirnya perdagangan bebas merupakan hal-hal yang bisa menguatkan terjadinya globalisasi didunia ini. Tentunya fenomena ini bisa terjadi karena mayoritas negara-negara yang ada saat ini menerapkan sistem ekonomi yan terbuka dimana setiap negara bisa bekerjasama dengan negara lainnya. Dan tentunya Indonesia pun melakuan hal ini dengan negara lainnya.
5. Sistem Keuangan Internasional yang Liberal
Kamu harus tahu bahwa salah satu dari sekian banyak faktor yang bisa mendorong terjadinya globalisasi didunia ini adalah liberalisasi sistem keuangan global. Hampir setiap negara bahkan mungkin setiap negara memiliki ketergantungan dengan sistem keuangan global yang ada. Salah satunya Indonesia yang membutuhkan dana atau modal investasi dari lembaga keuangan dunia atau negara lain.
6. Kemudahaan Dalam Migrasi
Saat ini semakin banyak orang yang bermigrasi atau berpindah dari satu negara ke negara lain dengan berbagai macam tujuan misalnya saja untuk bekerja, menuntut ilmu, wisata, dan berbagai macam keperluan lainnya. Hal ini yang membuat orang-orang yang ada dalam suatu daerah sudah terbiasa dengan orang-orang pendatang yang datang dari daerah lainnya misalnya Bali dengan turis-turis internasionalnya.
7. Kerjasama atau Hubungan Antar Negara
Satu lagi faktor yang tidak kalah pentingnya yang membuat terciptanya globalisasi adalah kerjasama atau hubungan antara negara yang satu dengan negara lainnya. Misalnya saja Indonesia yang bekerjasama dengan negara-negara lain baik itu hubungan bilateral, multilateral, maupun internasional. Tentunya globalisasi semakinmemudahkan suatu negara bekerjasama dengan negara lain.
Perkembangan globalisasi diibaratkan seperti sebuah pedang yang memiliki dua sisi, yakni memiliki sisi positif dan negatif diberbagai bidang. Dalam bidang sosial budaya ini globalisasi telah memberikan pengaruh positif, misalnya pertukaran pelajar antar negara-negara didunia ini yang tentunya saling memberikan manfaat, penegakkan atas Hak-hak Azasi Manusia (HAM), memupuk rasa solidaritas antarbangsa dari berbagai macam negara didunia, dll.
Untuk bidang ekonomi pengaruh positif globalisasi sangat dirasakan misalnya saja aliran dana atau modal mengalir kedalam negeri yang bisa digunakan untuk mempercepat atau memperlancar pembangunan negara, selain itu investasi asing juga bisa membuka lapangan pekerjaan dan mengurangi jumlah pengangguran.Dalam segi perpolitikan juga ada pengaruhnya yang berimbas kedalam dunia politis dalam negeri misalnya saja sistem demokrasi yang diterapkan di Indonesia ini semakin lama semakin baik bahkan diakui dunia bahwa Indonesia memiliki sistem demokrasi yang baik, selain itu juga meningkatkan kerjasama diplomatik negara.

Selain itu globalisasi juga memberikan pengaruh yang luar  biasa kepada ilmu pengetahuan dan teknologi dan ini merupakan pengaruh yang paling terasa kepada setiap orang. Teknologi semakin memudahkan manusia dalam beraktivitas serta teknologi bisa menghubungkan dunia yang seolah-olah menjadi begitu dekat.
Adapun dampak negatif dari globalisasi diantaranya dalam bidang sosial budaya yang harus kita hindari bersama atau kalau bisa kita hilangkan saja, misalnya merebaknya sifat individualitis dan ingin menang sendiri, hilangnya gotong royong dalam masyarakat Indonesia serta semakin lebarnya jurang kesenjangan sosial.Untuk bidang ekonomi ada juga pengaruh negatifnya yang datang ke Indonesia misalnya saja semakin banyak masuknya arus barang-barang dari luar negeri yang menyebabkan Indonesia mengalami defisit neraca pembayaran, selain itu banyak sumber-sumber daya alam Indonesia yang dinikmati atau dikuasai oleh asing.
Dalam segi perpolitikan dinegeri ini juga ada pengaruhnya dari globalisasi dunia, misalnya saja ancaman-ancaman disintegrasi bangsa (kita bisa berkaca dari lepasnya Timor Timur dari pangkuan NKRI), kemudian seringkali kita lihat demonstarsi yang hampir terjadi disetiap daerah yang mudharatnya lebih banyak.Kemudian ada juga pengaruh negatif dari globalisasi terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi yang seharusnya bisa kita hindari atau kalau bisa kita hilangkan seperti misanya ketergantungan akan teknologi, kecanduan akan teknologi, meningkatnya tindak kriminalitas yang menggunakan teknologi, dan banyak lagi.


Sumber : Isu-isu Global Kontemporer. Prof.Drs. Budi Winarno, MA. P.hD



.



Diplomasi dan Hubungan Internasional



Perkembangan hubungan internasional secara terus menerus membutuhkan sebuah proses perundingan dan lobby-lobby politik untuk mencapai kepentingan nasional masing-masing negara. Proses ini dikenal dengan istilah diplomasi, sedangkan pelaku/subjek yang melakukan perundingan atau proses diplomasi disebut Diplomat.
A.           Pengertian dan Fungsi Diplomasi

Sir Ernest Satow sejak tahun 1922 mendefinisikan Diplomasi sebagai aplikasi intelejen dan taktik untuk menjalankan hubungan resmi antara pemerintah yang berdaulat, kadangkala diperluas dengan hubungan antara negara-negara jajahannya.
Barston, juga memberikan pendapat mengenai diplomasi sebagai manajemen hubungan antar negara atau hubungan antar negara dengan aktor-aktor hubungan internasional lainnya. Negara, melalui perwakilan resmi dan aktor-aktor lain berusaha menyampaikan, mengkoordinasikan dan mengamankan kepentingan nasional khusus atau yang lebih luas, yang dilakukan melalui korespondensi, pembicaraan tidak resmi, saling menyampaikan cara pandang, lobby, kunjungan dan aktivitas-aktivitas lainnya yang terkait. Meskipun diplomasi bergubungan dengan aktivitas-aktivitas yang damai, dapat juga terjadi di dalam kondisi perang atau konflik bersenjata, karena tugas utama diplomasi tidak hanya manajemen konflik, namun juga manajemen perubahan dan pemeliharannya dengan cara melakukan persuasi yang terus menerus ditengah-tengah perubahan yang sedang berlangsung.
Diplomasi mewakili tekanan politik, ekonomi dan militer kepada negara-negara yang terlibat dalam aktivitas diplomasi, yang diformulasikan dalam pertukaran permintaan dan konsensi antara para pelaku negoisasi.
Sebagai seorang aktor diplomatik, pekerjaan diplomatik bukanlah menyusun kebijakan ; peranan itu dimainkan oleh politikus dan negarawan. Seperti yang dikemukakan oleh Clark, diplomat mungkin menentang kebijakan politik negara tempat dia bekerja dan negara yang diwakili, tetapi mereka tetap diharapkan untuk menyampaikan kebijakan tersebut dan mendukung bahkan jika kebijakan tersebut tidak mereka yakini secara pribadi. Sebagai pelaksana kebijakan luar negeri, diplomat menyampaikan detail kebijakan pemerintahan negara lain, menjelaskannya, dan memperoleh dukungan dan jika dikehendaki, menegoisasikan kesepakatan untuk meningkatkan dan mewujudkannya.

B.            Sejarah dan Tugas Diplomasi
Awal perkembangan diplomasi terjadi di negara-negara bagian Eropa/Amerika Utara. Beberapa ahli politik menyebutkan terdapat beberapa perbedaan diplomasi yang diterapkan di negara-negara Eropa/Amerika Utara. Lebih jauh lagi, terdapat banyak literatur mengenai cara pandang Islam, India dan China mengenai hubungan antar negara dan peran seorang Duta dalam menjaga hubungan-hubungan tersebut. Misalnya, Arthasasra dalam karangan Kautilya, kitab dari jaman India Kuno yg membahas mengenai politik dan administrasi, banyak membahas masalah ini. Dalam buku ini membahas mengenai Hubungan dengan negara-negara luar dan negoisasi dilaksanakan oleh Duta besar atau Envoy. Arthasasrtra mengidentifikasi ada tiga tipe Duta : Nisrsrarta, yaitu Duta Besar berkuasa penuh, Parimitarta, yang memiliki kekuasaan terbatas dalam melakukan perundingan, dan Sasanahara, yang kedudukannya sedikit lebih tinggi daripada pembawa pesan. Dikatakan pula bahwa duta harus ditempatkan di seluruh rajamandala (dunia) yang mengimplikasikan bahwa memposisikan Duta Besar tetap di luar negeri.
Tugas-tugas seorang Duta dalam Arthasastra termasuk mengirimkan informasi keluar kepada Rajanya dan memastikan bahwa isi-isi dalam sebuah traktat dilaksanakan, menngkonsolidasikan aliansi, atau merancang huru-hara dan kekacauan di luar negeri. Tugas-tugas lainnya adalah menyelundupkan tentara secara rahasia ke negara lain, mendapatkan harta dari pangeran negara asing, membantu pelarian seorang pangeran atau Raja, dan menunjukkan keberanian jika diperlukan. Tugas lainnya termasuk percobaan mempengaruhi dan menggoda pejabat dari negara asing agar mengalihkan kesetiaan dari Rajanya dan mengalihkan kepada kesetiaan Raja sendiri. Jadi jelaslah bahwa seorang envoy seringkali diharapkan memainkan peran sebagai agen rahasia atau mata-mata yang terhormat.
Selain di India, Cina juga terdapat perkembangan studi diplomasi yang diperkenalkan pertama kali oleh Confusius (lahir 2500 tahun yang lalu di Cina). Dasar ajarannya adalah penolakan untuk mempercayai bahwa perang merupakan sebuah kondisi yang alami dalam masyarakat. Dia mengajarkan bahwa kerjasama merupakan suatu proses yang wajar, untuk bekerja keras, bukan untuk saling memanfaatkan, tetapi untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. Pada opininya, keberhasilan seorang penguasa harus diukur melalui kemampuannya, bukan untuk saling memanfaatkan kekayaan dan kekuasaan untuk kepentingan dirinya sendiri, tetapi untuk mewujudkan kejejahteraan dan kebahagiaan bagi rakyatnya. Confisius juga mengajarkan prinisip-prinsip dan teknik-teknik protokol dalam praktek diplomasi, sejarah, puisi dan menyelenggarakan upacara-upacara.
Dalam konsep Islam juga dibahas mengenai ide negara-negara universal yang berdasarkan pada kesamaan manusia. Dalam hukum Islam, hak-hak musuh banyak dibahas, baik dalam kondisi damai dan perang, hak-hak tersebut seperti yang digariskan oleh Nabi Muhammad dan dalam Al-Qur’an. Hukum internasional dalam Islam mencoba mengatur pelaksanaan sebuah negara Islam dan menerapkan dasar yang paling adil, tidak saja menyangkut hubungan dengan sesama negara Islam, tetapi huga dengan negara-negara non-Islam. Hukum Islam juga mengatur mengenai masalah kesepakatan, bea-cukai, dasar politik dan otoritas pemerintahan. [1]
Untuk mencapai kepentingan nasional, keterampilan dalam berdiplomasi merupakan syarat utama seorang diplomat yang terlibat dalam politik internasional, yang pada dasarnya dipergunakan dimana tujuan-tujuan pemerintah saling bertentangan. Diplomasi dapat diselenggarakan dalam pertemuan khusus atau konferensi umum.
Diplomasi memiliki tugas utama yakni untuk merubah kebijakan, tindakan, tujuan dan sikap pemerintahan negara lain dan diplomat-diplomatnya melalui persuasi, menawarkan penghargaan, saling bertukar konsesi, atau mengirimkan ancaman.
Keberhasilan kegiatan diplomasi dapat dinilai dati tujuan awalmula. Diplomat melakukan diplomasi untuk mengejar kepentingan nasionalnya dengan cara saling tukar-menukar informasi secara terus-menerus dengan negara lain atau rakyat di negara lain. Tujuan persuasif antar negara adalah untuk merubah sikap dan tingkah laku lawannya.
Sebuah kelemahan mendasar dari semua pendekatan diplomasi dan peran diplomat adalah mereka mengasumsikan bahwa negara beroperasi di dalam latar belakang politik, ekonomi dan budaya yang sama. Hal ini mungkin merupakan asumsi yang benar jika diterapkan dalam praktek diplomasi internasional seperti yang dikenal pada abad ke-19 sampai abad ke-20. Pada waktu itu, diplomasi baru berkembang di kawasan yang sama, yakni Eropa. Akan tetapi, asumsi ini semakin tidak dapat diterima sejak abad ke-20 sampai saat ini, karena semakin banyak negara-negara Non-Barat di Asia dan Afrika dan Amerika Latin yang memperoleh kemerdekaan penuh, dan mulai memainkan peran yang semakin penting dalam masalah internasional.
Abad lalu telah ditandai dengan perubahan-perubahan yang luar biasa dengan adanya revolusi teknologi informasi. Revolusi tersebut mengarah pada perubahan penting dalam praktek diplomasi khususnya dalam peran diplomat dan peran Deplu. Selain itu, terdapat peningkatan peran media massa, tumbuhnya aktor-aktor yang melaksanakan diplomasi jalur kedua, serta meningkatnya peran NGOs dan INGOs.

C.           Pengaturan dan Proses Diplomasi

Diplomasi erat kaitannya dengan politik luar negeri, karena diplomasi merupakan impelemtasi dari kebijakan luar negeri yang dilakukan oleh pejabat-pejabat yang terlatih. Di beberapa negara, kebijakan luar negeri dirancang dan diformulasikan oleh Menlu dan Staf Deplu. Pelaksanaan diplomasi bilateral dan multilateral serta kegiatan sehari-hari dilaksanakan oleh para diplomat dan perwakilan-perwakilan yang ditempatkan di luar negeri dan di dalam organisasi-organisasi internasional.
Teori sistem dapat digunakan untuk menjelaskan kaitan antara diplomasi dengan kebijakan luar negeri. Seperti yg dikemukakan oleh Jervis, sebuah sistem dibentuk oleh kenyataan yang berubah di satu bagian sistem serta menyebabkan terjadinya perubahan di bagian lainnya. Perubahan dalam kebijakan luar negeri akan merubah praktik diplomasinya. Kondisi ini akan mengarah pada implikasi sistem yang berat : konsekuensi tingkah laku seringkali tidak diharapkan atau tidak disengaja oleh para aktor diplomasi.
Selanjutnya teori sistem yang digunakan dalam diplomasi ialah pengkondisian. Kebijakan luar negeri akan dirancang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh staf diplomatiknya. Suatu tindakan diplomasi tidak dapat dilaksanakan tanpa didukung oleh suatu kebijakan luar negeri. Hubungan antara dua aktor akan tergantung sebagian pada hubungan diantara aktor-aktor tersebut dan aktor lainnya yang terdapat dalam sistem. Hal ini berarti bahwa apakah aktor-aktor akan bekerjasama atau menentang satu sama lain akan dipengaruhi oleh aktor diluar hubungan bilateral mereka.
Lebih jauh lagi, sistem saling terkait satu sama lain ; terjadi di satu wilayah akan berpengaruh terhadap wilayah lainnya. Perubahan-perubahan dalam hubungan antara dua negara akan mengarah pada perubahan didalam kebijakan luar negeri negara lainnya. Didalam sistem, kebijakan telah bercabang-cabang dan meluas melalui waktu dan tempat yang jauh.
            Keberhasilan atau kegagalan diplomasi akan tergantung tidak hanya pada manajemen hubungan internasional yang dilakukan oleh para diplomat yang ditempatkan diluar negeri, tetapi juga tergantung pada arahan dari Menlu dan Direktur Jenderal. Cohen secara khusus mencatat bahwa pengaruh diplomasi terhadap kebijakan luar negeri di negara-negara yang sedang berkembang yang menganut sistem pemerintahan yang terpusat, eksekutif pusat yang kuat, birokrasi yang relatif lemah dan dasar pembentukan kebijakan yang sempit. Kepala Negara lebih senang melakukan negoisasi secara langsung atau melakukan diplomasi personal ; dalam hal ini lingkungan dekat Presiden (emisaries) seringkali bukan berasal dari kalangan diplomatik. Tidak adanya kegiatan pengambilan keputusan yang interaktif cenderung memperlemah peran birokrasi dan khususnya departemen luar negeri.
D.  Tujuan Diplomasi
            Keberhasilan diplomasi dapat dilihat dari tujuan awalnya, yakni untuk mencapai kepentingan nasional sebuah negara. Seorang diplomat melaksanakan fungsi diplomasi dengan cara saling bertukar informasi secara kontinu baik dengan negara lain maupun dengan rakyat yang ada di negara lain. Bagi negara tujuan persuasifnya agar dapat merubah sikap dan tingkah laku negara lain (lawannya).
E.       Pengaruh Teknologi Modern dalam Diplomasi
            Perkembangan arus globalisasi di abad-21 mempengaruhi peningkatan teknologi  informasi di setiap negara. Sehingga negara-negara harus menilik kembali pelaksanaan proses diplomasi. Dengan adanya teknologi memungkinkan peran dan tugas para diplomat dan peran Duta Besar berkurang secara signifikan. Hal ini disebabkan seluruh kegiatan komunikasi dapat dilakukan dari jarak jauh, dimanapun para Diplomat dan Dubes berada dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi.
            Harold Nicholson mengungkapkan : “Dengan perkembangan komunikasi, peran dan fungsi seorang Diplomat telah semakin berkurang sehingga diplomat sekarang telah menurun statusnya menjadi juru tulis yang bertugas mencatat pesan-pesan telepon”.[2] Dalam penerapannya dilapangan, hubungan diplomatik negara-negara baik itu Bilateral ataupun Multilateral sangat membutuhkan komunikasi dan informasi. Seorang mantan Menlu AS, George Schulz menyatakan “bahan mentah diplomasi adalah informasi, bagaimana memperolehnya, menilainya dan menempatkannya kedalam sistem untuk kepentingan dan untuk membingungkan pihak lain”.[3]
            Seiring perkembangan teknologi informasi terjadi perubahan-perubahan dalam proses diplomasi, Barry Fulton mengungkapkan “negara-negara sebelumnya terhubung oleh Departemen Luar Negeri dan aktivitas perdagangan, sekarang terhubung melalui berjuta-juta individu dengan memakai saluran serat optik, satelit, telepon tanpa kabel, dan dengan kabel, surat elektronik (email) dalam sebuah jaringan yang kompleks tanpa pengawasan terpusat”.[4] Waktu dan tempat tidak lagi menjadi penting dan tidak lagi menjadi isu yang relevan, menyebabkan kegiatan diplomasi tradisional harus berjuang keras mempertahankan relevansinya”.[5]
            Selain terjadi revolusi teknologi informasi yang mengharuskan perubahan dalam praktek diplomasi, terjadi pula perubahan-perubahan lainnya seperti, meningkatnya peran media massa, globalisasi bisnis dan keuangan, meningkatnya partisipasi masyarakat di dalam kegiatan hubungan internasional, serta masalah-masalah kompleks lainnya, yang dapat menghapus batas nasional sebuah negara.
            Barry Fulton, mengusulkan agar pelaksanaan diplomasi ditinjau kembali agar dapat mengikuti perubahan-perubahan global yang terjadi. Diplomasi pada masa modern dapat dilaksankan bukan hanya oleh Kementrian Luar Negeri, namun juga oleh kegiatan-kegiatan perdagangan, pertanian dan organisasi-organisasi lainnya yang terkait dengan masalah-masalah internasional dan untuk menerapkan manajemen perubahan. Lebih lanjut, adanya kebutuhan untuk menetapkan sebuah standar yang lebih lengkap mengenai penunjukkan Duta Besar karir maupun Duta Besar Politis sebagai suatu sinyal terdapatnya tuntutan profesionalisme dan pendelegasian kewenangan Kedutaan Besar. Perubahan Paradigma dalam diplomasi termasuk meningkatnya kemampuan teknologi informasi, sehingga dapat memenuhi standar kerjasama antar negara. Seperti kegiatan menyediakan state of art jaringan komputer dan sambungan elektronik agar informasi dapat diperoleh di manage, serta disebarkan secara lebih efektif dan efisien.[6]
           


Sumber : Sukawarsini Djelantik. Diplomasi antara Teori dan Praktik. (Yogyakarta : Graha Ilmu, 2008).




[2] R.P Barston, Modern Diplomacy, Longman, N.Y 1997 hlm.1
[3] George P.Shulz, “Keynote Address from the Virtual Diplomacy Conference : The Information Revolution and International Conflict Management”, Peace Works18. Lihat di  http://www.usip.org/pubs/virtual118/vdip_18.html

[4] Barry Fulton, Reinventing Diplomacy in the Information Age, CSIS Washington D.C, 1998, lihat di http://www.csis.org/ics/dia.
[5] Ibid

[6] Lord Palmerston dalam Barston, Modern Diplomacy, hlm 22.

Sabtu, 18 April 2015

KOMPETISI MEDIA DALAM PERSPEKTIF EKOLOGI MEDIA DAN EKONOMI MEDIA

Kompetisi antar media pasti terjadi, karena tanpa persaingan sebuah media tidak dapat mengukur kinerjanya. Melalui kompetisi media saling memperebutkan perhatian pasar (khalayak dan iklan). Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai kompetisi antar media berdasarkan dua perspektif, yakni perspektif ekologi media dan perspektif ekonomi media.

Jumat, 03 April 2015

Ekonomi Media dan Permasalahan yg Dihadapi

Media massa sering dikenal sebagai sarana untuk memperkenalkan hubungan sosial, politik dan budaya. Seiring perkembangan zaman sekarang, media tidak hanya sebagai sarana bagi sosial, politik dan budaya, melainkan juga sebagai sarana bagi ekonomi. Media memberikan keuntungan dan sebagai penentu bagi aspek ekonomi. Sebut saja Pasar bebas membutuhkan media untuk memperluas pengaruhnya terhadap persaingan barang produksi. Tuntutan ekonomi kini menjadi pertimbangan utama terhadap pembentukan media massa kontemporer. Dalam tulisan ini akan memaparkan apa yang dimaksud ekonomi media (dilihat dari perspektif ilmuwan komunikasi), permasalahan yang dihadapi oleh ekonomi media, pentingnya mempelajari ekonomi media serta ruang lingkup dari ekonomi media.

MEDIA SEBAGAI INSTITUSI EKONOMI

Pada pembahasan sebelumnya mengenai pengantar ekonomi media telah disebutkan bahwa, media saat ini bukan hanya dipandang sebagai wadah dalam memperkenalkan hubungan sosial, politik dan budaya. Wilbur Scramm (Ilmuwan Komunikasi), menyebut media massa sebagai media informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial. Namun, kecenderungan dewasa ini memperlihatkan media telah menjadi industri atau institusi ekonomi. Perkembangan global sekarang telah menjadikan media massa bukan hanya sebagai media informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial, namun juga sebagai industri atau institusi ekonomi.

Pasar media, Struktur dan Prilaku Pasar

Dalam kegiatan ekonomi pasti terdapat pasar yang digunakan untuk aktivitas jual beli. Sama halnya dalam kegiatan media, pasti memerlukan pasar untuk mempromosikan program yang telah diproduksi agar memperoleh perhatian dari khalayak. Dalam tulisan ini, akan membahas apa sebenarnya yang dimaksud dengan Pasar Media, Tipe Struktur pasar, Struktur Pasar dan Prilaku Pasar.

Kamis, 02 April 2015

Media dalam Kinerja dan Evaluasi Pasar



Masih mengenai pasar media yang merupakan sambungan dari pasar media bagian pertama. Jika dibagian pertama telah membahas apa yang dimaksud dengan Pasar Media, Bagaimana Struktur Pasar dan Tipe Struktur Pasar yang berkembang, serta Prilaku Pasar. Maka pada Tulisan ini akan membahas mengenai Kinerja Pasar dan Evaluasi Pasar.